Friday, January 13, 2012

Tembakau Paiton : Tembakau Rakyat Probolinggo




Tembakau paiton merupakan tembakau rakyat/asli yang diproses secara rajangan. Tembakau paiton ini sudah cukup lama berkembang di wilayah Kabupaten Probolingfo, disekitar Gunung Argopuro, Gunung Ringgit dan Selat Madura dengan luas areal sekitar 11.000 ha per tahun. Konsumen tembakau paiton cukup banyak, antara lain PT. Gudang Garam, PT. Bentoel, PT. HM Sampoerna, PT. Djarum, PT. Noroyono dan beberapa pabrik rokok sedang dan kecil. Tembakau paiton berfungsi sebagai tembakau semi-aromatis yang dibutuhkan dalam jumlah yang relatif besar.
Walaupun sangat dibutuhkan oleh pabrikan rokok, ternyata hasil tembakau paiton masih rendah yaitu 1,2 ton per hektar. Pada hal dengan budidaya yang benar, tembakau paiton bisa menghasilkan sampai 2,0 ton per hektar. 
Beberapa strategi untuk memperoleh produktivitas yang tinggi adalah :

 

1. Penggunaan varietas Unggul
 

Harus diakui bahwa keberadaan varietas unggul tembakau Paiton belum tersedia bahkan  belum ada varietas lokal tembakau paiton yang dilepas/ diputihkan. Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat (Balittas), Malang bekerjasama dengan Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Probolinggo telah melakukan eksplorasi dan uji multilokasi varietas lokal tembakau paiton sejak tahun 2008 sampai dengan tahun 2011. Hasil eksplorasi diperoleh lima varietas lokal, yaitu Mersi, DB 101, Moris, Super/Ergida dan Serumpung. Setelah dilakukan Uji multilokasi terpilih dua varietas terbaik, yaitu: Varietas Super/Ergida dengan nama sementara Kraksaan Jaya dan Varietas Moris dengan nama sementara Prabulinggih 
Penggunaan benih yang murni dan tidak tercampur juga sangat dianjurkan. Petani sebaiknya memperoleh benih dari gudang-gudang mitranya atau dari BALITTAS. Bila petani membuat benih sendiri, sebaiknya petani melakukan tata cara pembuatan benih yang benar misalnya dengan isolasi jarak atau pengerodongan bunga
 

2. Penggunaan Bibit Yang Bagus
 

Bibit adalah modal utama dalam sebuah usaha walaupun nilainya sangat kecil. 50% keberhasilan penanaman tembakau ditentukan oleh bibit. Petani di paiton biasanya memperoleh bibit dengan cara membeli dari penangkar bibit. Bibit yang diperoleh biasanya tidak diketahui varietasnya, tercampur, tidak seragam, kurang umur, terlalu kecil.
Untuk memperoleh produktivitas 2000 kg/ha perlu dimulai dengan penggunaan bibit yang bagus yaitu Berasal dari varietas anjuran, Sehat dan seragam, Berbatang keras, Berakar banyak, Umur 40 – 45 hari setelah sebar. Sebaiknya petani membuat bibit sendiri karena biayanya murah dan mudah dikerjakan.

3. Jarak Tanam yang tepat
 

Sangat dianjurkan menanam dengan sistem double row atau tram line dengan jarak tanam (90 x 70) x 50 cm atau populasi 25.000 pohon per hektar. Petani biasanya menggunakan jarak tanam 80 x 80 cm atau 75 x 75 cm dengan  populasi 15.000 – 17.000 pohon per hektar. Penambahan populasi secara otomatis akan meningkatkan hasil
 

4. Pemupukan
 

Pemupukan yang tepat akan menghasilkan tanaman yang sehat karena tanaman tercuktpi kebutuhan makanannya. Komposisi N : P2O5 : K2O untuk tembakau paiton adalah 109 : 72 : 100. Komposisi tersebut bisa dipenuhi dengan penggunaan pupuk sebagai berikut :
 

Pupuk I : 100 kg Urea, 150 kg ZA, 200 kg SP36 dan 100 kg ZK. Pupuk diberikan segera setelah tanam, dibenamkan dekat akar menggunakan tugal atau cangkul di sisi kanan dan kiri tanaman
 

Pupuk II : 150 kg ZA dan 100 kg ZK. Pupuk dibenamkan dengan tugal atau cangkul disalah satu sisi tanaman maksimal 2 hari sebelum pengairan I

5. Pengairan
 

Ketersediaan air adalah syarat utama untuk pertumbuhan tanaman jadi tembakau paiton juga butuh pengairan agar bisa tumbuh bagus. Prinsip pengairan untuk tembakau paiton adalah :
 

1.    Umur 1 – 20 hari setelah tanam : dijaga agar tanaman tidak terkena air dan disebut fase      stress periode. Fungsinya agar tanaman membentuk perakaran yang bagus
 

2.    Umur 21 hari dilakukan pengairan pertama, bisa dengan dileb, ditorap atau dikocor dengan volume yang cukup (2 liter/pohon
 

3.    Selanjutnya dilakukan pengairan sampai tanaman siap ditopping dan pengairan harus dihentikan setelah Panen
 

6. Topping dan Suckering
 

Toping adalah membuang tunas pucuk tanaman tembakau segera setelah keluar bunga. Tujuannya adalah membtasi jumlah daun dalam satu pohon sehingga daun dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Daun akan tumbuh melebar dan menebal sehingga hasil akan meningkat. Seiring meningkatnya hasil, kualitas juga akan meningkat.Tembakau paiton sebaik nya ditopping dengan meninggalkan daun 20 – 22 lembar dalam setiap pohonnya.
Suckering adalah usaha untuk membuang atau membersihkan tunas samping yang tumbuh setelah tanaman di topping. Ada banyak nama untuk suckering, ada yang menyebut suli, sunten, sulang, wiwilan dll tergantung didaerah mana tembakau di tanam. Pada umumnya petani melakukan stckering secara manual yaitu membuang sucker yang tumbuh secara rutin 7 – 10 hari sekali. Cara ini memerlukan banyak tenaga kerja dan kurang efektif karena sucker tumbuh dulu baru dibuang.
 

Ada cara suckering dengan menggunakan bahan kimia yaitu Butralin. Cara ini sangat efektif dan efisien bila dilakukan dengan benar pada waktu yang tepat.
 

Dengan memperbaiki sistem budidaya terutama 6 tahap budidaya di atas, tembakau paiton akan mudah menghasilkan 2 ton per hektar.